Kode Keras!!! Jika Ingin Selamat, Hindari Hal Ini Dalam Bersosial Media


Dalam era digital sekarang ini hampir seluruh penduduk dunia memiliki akun sosial media baik itu Facebook, Instagram, maupun Twitter, dari kalangan pejabat Negara hingga kalangan rakyat bawah yang mana kesehariaannya tak lepas dari kegiatan dunia maya yang satu ini.

Terlepas dari itu semua, tak dapat di pungkiri bahwa sosial media 'Bak Dua Mata Pisau Berbeda'.

Di satu sisi sosial media dapat membawa begitu banyak manfaat bagi penggunanya entah itu berupa ilmu pengetahuan, bertambahnya teman, jodoh, bahkan bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah dari nominal yang hanya ratusan ribu hingga puluhan juta rupiah.

Di sisi lain, tak jarang pula pengguna sosial media berujung mendekam di balik jeruji besi penjara, menjadi korban pemerkosaan, penipuan, pertengkaran yang berujung pada tindak kriminal.

Semua itu kembali kepada diri kita masing-masing, ingin mengambil manfaat dari sosial media atau mengundang mudharat (sial) yang akan menimpa pada diri kita? Terserah mau pilih yang mana, pilihan terletak di tangan kita.

Sejatinya, ada memang dari sebagian kalangan yang mana mereka kurang memahami aturan UU (undang-undang) ITE yang berlaku di Negara kita ini sehingga dalam bersosial media masih saja 'asyik' membully caci-maki sana-sini, sebar hoax, dan lain-lain.

Sebagian lain, kurangnya memahami situasi dan keadaan dengan kata lain 'berjiwa polos' menganggap bahwa orang-orang di balik akun yang tengah berinteraksi dengannya adalah orang baik dan suci, padahal bisa jadi adalah penjahat 'kelamin' yang sudah mengintai dirinya sejak lama. Tak ayal, jika mengadakan pertemuan dengannya akan sangat berakibat fatal. Hal ini bukan 'isapan jempol belaka', entah sudah berapa banyak korban pemerkosaan, pembunuhan, dan penculikan yang bermula dari sosial media.

Untuk menghindari segala bentuk mudharat yang berpotensi menimpa kita dalam bersosial media, berikut hal-hal yang harus di hindari:

Stop membully!!!, caci-maki, dan menebar kebencian


Sebelumnya, arti kata "bully" seperti yang terlansir pada halaman Wikipedia adalah:

Penindasan, perundungan, perisakan, atau pengintimidasian (bahasa Inggris: bullying) adalah penggunaan kekerasan, ancaman, atau paksaan untuk menyalahgunakan atau mengintimidasi orang lain. Perilaku ini dapat menjadi suatu kebiasaan dan melibatkan ketidakseimbangan kekuasaan sosial atau fisik. Hal ini dapat mencakup pelecehan secara lisan atau ancaman, kekerasan fisik atau paksaan dan dapat diarahkan berulang kali terhadap korban tertentu, mungkin atas dasar ras, agama, gender, seksualitas, atau kemampuan. Tindakan penindasan terdiri atas empat jenis, yaitu secara emosional, fisik, verbal, dan cyber. Budaya penindasan dapat berkembang di mana saja selagi terjadi interaksi antar manusia, dari mulai di sekolah, tempat kerja, rumah tangga, dan lingkungan.

Perbuatan ini jelas sangat jahat yang tak pantas di lakukan kepada siapa pun, dimana pun, dan kapan pun. Ketahuilah bahwa perbuatan membully termasuk tindakan pidana yang mana telah di atur dalam pasal berikut di bawah ini:

  1. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan (Pasal 27 ayat 1), muatan penghinaan dan/atau pencemaran nama baik (Pasal 27 ayat 3), muatan pemerasan dan/atau pengancaman (Pasal 27 ayat 4).
  2. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi yang ditujukan untuk menimbulkan rasa kebencian atau permusuhan individu dan/atau kelompok masyarakat tertentu berdasarkan atas suku, agama, ras dan antar golongan (SARA), (Pasal 28 ayat 2).
  3. Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mengirimkan Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang berisi ancaman kekerasan atau menakut-nakuti yang ditujukan secara pribadi (Pasal 29).


Hukuman yang akan diterima oleh si pembully tidak main-main yang mana telah tercantum dalam Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, yang berbunyi :


  1. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 27 ayat (1), ayat (3), ayat (4) dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000 (satu milyar rupiah).
  2. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28 ayat (2) dipidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.1.000.000.000 (satu milyar rupiah).
  3. Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksud dalam Pasal 29 dipidana penjara paling lama 12 (dua belas) tahun dan/atau denda paling banyak Rp.2.000.000.000 (dua milyar rupiah).


Jadi sangat di sayangkan jika bersosial media hanya di gunakan untuk perbuatan buruk seperti itu yang mana nantinya bukan hanya berakibat  buruk bagi korban bully namun juga bisa berakibat buruk bagi diri si pembully pribadi. Bagaimana tidak? Hanya karena tidak kuasa menahan jemarinya dapat menghantarkannya masuk ke dalam penjara.

Jangan mudah percaya kepada sesorang yang baru di kenal dari sosial media


Ketahuilah sekaligus beritahukanlah orang-orang terdekatmu seperti teman atau saudaramu bahwa pemilik akun sosial media tidak semuanya dari kalangan orang baik-baik. Maka itu, jangan mudah percaya dan hindarilah pertemuan dengan orang yang hanya kita kenal dari sosial media.

Jangan hanya karena melihat foto profilnya cantik atau tampan lantas langsung terpesona, bisa saja sifat dan rupa aslinya jauh berbeda dari apa yang anda lihat selama berinteraksi di sosial media. Hal ini bukan merupakan sikap berburuk sangka terhadap sesorang, namun lebih tepatnya adalah sikap waspada terhadap orang-orang yang belum jelas kita kenal secara langsung.

Sudah banyak kabar berita dari berbagai media mengabarkan begitu banyak korban pemerkosaan, pembunuhan, perampokan, penculikan yang berawal dari perkenalannya di sosial media.

Stop hoax!!! Dan penyebarannya


Hoax adalah berita palsu yang sudah pasti mengandung unsur fitnah yang jelas bersifat merugikan terlepas di tujukan kepada individu, korporasi, atau kepada komunitas kelompok yang menjadi sasarannya.

Untuk tindak kejahatan sosial media yang satu ini, hukuman pidana yang akan di dapat si pembuat konten hoax masih masuk ke dalam pasal yang telah disebutkan pada paragrap diatas mengenai pembullyan dan penebar kebencian.

Berhubung terdapat bunyi: "..Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak menyebarkan informasi.." pada pasal tersebut, maka tak ayal bukan hanya si pembuat konten namun berlaku juga kepada sesiapa saja yang menyebarkan konten yang bersifat hoax tersebut.

Sungguh ironis bukan? Hanya karena minimnya pengetahuan kita dalam membedakan berita hoax atau bukan, bisa terjerat dalam UU (undang-undang) ITE.

Maka itu dalam bersosial media, jangan mudah share (menyebarkan) bilamana mendapati suatu berita yang tak jelas sumbernya. Lakukanlah cek dan ricek terlebih dahulu akan kebenaran isi berita tersebut.

Lebih amannya, carilah suatu berita hanya bersumber dari media  resmi yang bisa dipertanggung jawabkan. 
Ferry Alamsyah
Setelah selesai membaca, maka menulislah! Karena aku membutuhkan teman untuk merubah dunia melalui tulisan.

Artikel Terkait

1 komentar

Posting Komentar

Langganan Artikel Kami